Monday, 20 February 2017

Ancaman dari bahasa yang entah apa namanya

Tags

                Bahasa merupakan kebutuhan sehari-hari selain sandang, pangan dan kandang. Setiap hari kita berkomunikasi dengan makhluk lainnya, itulah mengapa kita disebut makhluk sosial karena keberadaan kita membutuhkan keberadaan orang lain. Oleh karena itu, bahasa memiliki peranan penting dalam lancarnya aktivitas komunikasi sesama makhluk ciptaan tuhan.
                Hampir setiap hari kita berkomunikasi dengan orang lain, baik secara verbal, ucapan, bahasa tubuh, atau bahasa lainnya. Tapi ingat, kita hidup di Indonesia dan kita punya bahsa nasional yakni bahasa Indonesia yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Selain itu juga bertabur ribuan bahasa daerah yang tersebar dipelosok negeri dari Sabang sampai Merauke
                Tak dapat dipungkiri seiring dengan kemajuan zaman bahsa kita menglami banyak sekali perubahan, terbukti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang sudah direvisi beberapa kali menunjukkan betapa bahasa kita memiliki perkembangan yang nyata. Contoh lain adalah tranformasi ejaan  yang dolonya ditulis doelo sekang menjelma lebih mudah menjadi dulu. Kita memang harus welcome ke perubahan selma perubahan itu masih dalam koridor wajar dan bersifat positif.
                Disisi lain kemajuan zaman juga membawa efek negatif bagi bangsa ini. Seperti makin maraknya budaya asing yang dengan mudah masuk ke negara kita melalui jaringan sosial media atu media daring lainnnya.
Sungguh suatu ironi. Walupun sudah lama merdeka dan memilki infrastruktur pendukung kegiatan baca yangh memadai,nat baca di Indonesia sangatlah minim. Berdasar survey dari central connecticut university terhadap 61 negara di seluruh Indonesia Indonesia berada di posisi ke-60, atau menurut UNESCO hanya 0,001 % total penduduk Indonesia, atau kalau dikalkulasikan setiap orang Indonesia membaca rata-rata 17 lembar halaman buku dalam satu tahun.
Tidak hanya itu, bahasa negara kita yakni bahasa Indonesia sedang diserang oleh gempuran bahasa aneh yang entah apa namanya. Bahasa asli kita perlahan tergerus oleh budayaasing yang masuk secdara perlahan. Ayah menjadi abi atau daddy, ibu menjadi ummi atau mami dan masih banyak contoh lainnya.mungkin sudah lumrah kita mendengar anak kecil berucap seperti “ mami minta banana” yang maksudnya sang anak minta pisang kepada sang ibu. Hal ini dianggap lumrah terjadi kepada anak kecil karena mereka dianggap sedang berlatih berbahasa dan dengan keluguannya mereka dibiarkan begitu saja memakai bahasa yang entah apa namanya.
Jika kebiasaan itu terus berlanjut apakah bahsa Indonesia yang kita kenal kini secara perlahan akan punah digantikan oleh bahasa yang entah apa namanya itu? Penulis tidak bermaksud melarang rakyat untuk belajar bahasa asing. Tapi dalam belajar harus ada batasan yang jelasa sehingga tidak ada kerancuan yang nantinya bisa terjadi.
Oleh karena hal tersebut marilah kita mulai dari diri sendiri dengan membiasakan diri menulis dengan ejaan yang disenmpurnakan. Guru saya pun pernah berpesan,” jika kata bahasa Indonesianya masih ada janganlah pakai bahsa asing dalam tulisanmu. Ingat nak, kamu orang Indonesia bukan orang asing” maka segala sesuatu akan lebih menggema jika kita telah memulainya dari diri sendiri karena diri kita kaan menjadi panutan dan refleksi bagi mereka yang kita ajak menuju hal tersebut, karena contoh terbaik adalah diri kita sendiri.


Artikel Terkait

3 komentar

Kalo bahasanya bahasa Inggris. Saya rasa itu bukan masalah. Malah justru sebagai orang tua kita harus menanam apa yang akan berguna di masa mendatang... namun tetap jangan lupa darimana mereka berasal ya...

kalau yg paling mengganggu buat gua adalah bahasa 4L4Y gan :D

ya, sebagai warga negara paling tidak kita memberikan contoh berbahasa yang baik dan benar


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post