Monday, 21 March 2016

Cerpen tentang pemuda

Tags

Pagi itu suasana belajar mengajar berjalan seperti biasa di SMA Putra Bangsa. Membosankan. Para siswa tampak malas malas an mengikuti jalannya pelajaran. Hanya sekali mengangguk dikala ditanya oleh guru. Aku pun merasakan hal yang sama. Bosan.
          Kring.
          Bel istirahat berbunyi. Para siswa pun menghambur keluar kelas tanpa menghiraukan guru yang belum menutup penjelasannya, ada hal yang lebih penting yang harus dibicarakan hari itu.
“yan, gua tunggu di kantin ya?” tanya alan padaku.
“ok, tunggu ezt, aku mau ke bunga dulu!”
“sip, cepetan!”
Tanpa menunggu jawabanku, alan pun sudah ngacir pergi ke kantin berkumpul dengan para siswa yang lain.
          Aku pun pergi ke kelas sebelah menemui bunga. Gebetanku. Menjelaskan rencanaku, bunga pun mengiyakan dan hanya berpesan untuk jaga diri. Setelah menemui bunga aku pun bergegas berkumpul dengan teman temanku di kantin.
          “jhon, lu maju di garis depan, faris dukung dari tengah, ilham pimpim temen temen dari samping. Kita cegat mereka di perempatan senopati” roni menjelaskan. Dia lah pemimpin kami, siswa yang disegani di sekolahku. Siapa yang macam macam, jangan harap pulang sekolah dengan seragam rapi lagi, paling tidak lecet lecet habis dipukuli.
“Yan!” joni menyebut namaku
“apa?”
“lo, support dari belakang, jaga jaga takut mereka curang”
“joko kamu record dari atas jembatan okk, pokoknya kita pukul telak SMK Pelita hari ini” roni masih melanjutkan instruksinya.
          Setelah menyelesaikan instruksinya. Roni pun membubarkan kami.kembali ke kelas masing masing menyiapkan diri untuk kejadian yang tak akan pernah terlupakan sepulang sekolah nanti.
          SMA Putra Bangsa dan SMK Pelita memang sudah bermusuhan sejak dulu, entah siapa yang memulainya. Kita rutin terlibat dalam tawuran baik besar maupun kecil. Entah apa penyebabnya, kadang hanya karena saling ejek yang berakhir dengan baku hantam. Tapi dua bulan lalu entah apa penyebabnya tawuran massal terjadi antara SMA Putra Bangsa dan SMK pelita. Banyak siswa yang luka luka. Yang paling parah adalah temanku Alex, berniat menyelamatkan Roni yang menjadi bulan bulanan anak Pelita Alex justru menjadi tumbalnya. Tepat 2 bulan yang lalu di perempatan senopati menjadi saksi meninggalna Alex. Teman seperjuangan kami.
          Entah kenapa sejak pagi hari perasaanku tidak enak, setelah mendapat pesan singkat dari Roni yang meminta kami membawa senjata lengkap. “bawa senjata lengkap, kita balas kematian Alex besok, di tempat yang sama. Hancurkan SMK Pelita”. Perasaanku sungguh memburuk. Apa yang harus kulakukan. Tapi semuanya sirna oleh gengsi yang muncul. Olok olok yang akan datang, makian-makian yang nantinya datang. Semua itu akhirnya membulatkan tekadku untuk turut campur dalam serangan balasan itu.
          Kring. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Seluruh siswa segera berkumpul di belakang sekolah. Merekonsolidasi pasukan. Para siswa mengambil senjata mereka masing masing yang tadinya dititipkan kepada penjaga kantin yang tentunya dibayar oleh para siswa agar tidak diketahui guru.
          Para siswa pun bersiap siap, ada yang membawa parang modifikasi sepanjang 1 meter, clurit, pedang, pisqau lipat, dan senjata lainnya. Aku memutuskan hanya membawa batu dan balok kayu. Setelah semua siswa siap kami pun berangkat menuju perempatan senopati, bersiap untuk perang.
          Setelah 30 menit berlalu, salah satu siswa yang ditugasi melihat kedatangan siswa SMK Pelita datang tergopoh gopoh. “Ron, mereka datang, mereka bersenjata lengkap”
“sialan” kutuk Roni
“nasi sudah menjadi bubur, ayo kawan kawan serang mereka, demi Alex, demi sekolah kita, hancurkan SMK Pelita” ucap Roni
“Serang” teriak Roni
          Setelah komando tersebut teman-temanku langsung menghambur menyerang gerombolang siwa SMK Pelita yang datang. Tak bisa dinanya, kericuhan pun terjadi. Para siswa pun saling pukul, darah segar mulai bertumpahan.
          Melihat teman temanku yang bertarung di barisan depan, perasaan itu muncul. Perasaan menyesal, merasa bodoh, tapi apa daya, diriku merasa lebih malu disebut banci, pengecut atau semacamnya. Maka kuenyahkan perasaan itu.
          Hujan mengguyur di tengah tengah pertempuran, masyarakat tak menghiraukan tawuran yang terjadi, mereka menyingkir, menutup pintu dan jendela, mencari tempat berlindung.
          Ditengah guyuran hujan perang semakin memansa, makin yang terluka. Para siswa SMK Pelita mulai kewalahan, yang masih segar segera membopong teman mereka yang terluka parah. Teman temanku pun mulai bersorak gembira. Mereka menjadi semakin ganas. Satu siswa SMK Pelita pun terperangkap. Tanpa ampun temean temanku menghantamnya dengan senjata mereka masing masing. Malanglah nasib anak itu.
          Tak berapa lama berselang, suara sirene menyeruak.
“polisi, polisi, bubar” tanpa dikomando dua kali, seluruh siswa pun bubar, berlari ke segala penjuru, hanya satu tujuan mereka. Selamat.  Menyadari kegaduhan yang terjadi di garda depan, aku pun segera vberlari menyelamatkan diri bersama temen teman ku di barisan belakang.
          Dibawah guyuran hujan ku berlari sekuat tenaga. Entah kenapa perasaan itu muncul kembali, sial, kini kusadar betapa bodohnya aku. Betapa tololnya aku. Aku sungguh menyesal atas pilihanku. Akupun merutuk diriku sendiri. Tapi apa daya semuanya telah terjadi. Kuhanya bisa berlari berharap selamat. Selamat.
          Tapi apa daya, ternyata langit berkata lain, dibawah guyurang hujan. Kulihat teman temanku mulai tertangkap satu persatu. Tungkaiku pun terasa panas.entah kenapa rasa putus asa yang benar benar putus asa menyelimuti hatiku.

          Crit... berbarengan dengan suara tersebut, diriku terhempas jauh. Tulang tulangku serasa remuk. Ku tak mampu bergerak. Sekelebat bayangan mereka pun muncul, kedua orang tuaku, bunga, teman temanku. Kenangan mereka muncul. Tapi semuanya sudah terlalu terlambat, kutakmampu lagi menyesalinya. Hal terakhir yang kulihat adalah tubuhku yang dipenuhi genangan darah, lalu semuanya pun menjadi gelap.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post