Thursday, 21 January 2016

Resensi Buku Peci Miring

Tags



Oase di Tengah Krisis Teladan
            Gus Dur adalah tokoh tanpa batas, bukan hanya kiai, tapi juga seorang budayawan, cendekiawan, tokoh perdamaian, pejuang toleransi, negarawan yang demokratis, dan masih banyak kategori lainnya.
            Jika diibaratkan sebagai buku, Gus Dur adalah buku yang menantang untuk dibaca, ditafsirkan dan didiskusikan. Karena tidak mengikuti arus juga tidak melawan arus. Gus Dur menciptakan arusnya sendiri yang cukup menarik untuk dikaji dan didalami.
            Dalam situasi ini, Aguk Irawan mencoba menulis novel tentang kehidupan Gus Dur. Tentunya menovelisasikan hidup seseorang tidaklah mudah. Diperlukan riset serta penelitian yang mendalam. Selain itu diperlukan teknik bercerita yang cermat untuk menggabungkan fiksi dan nonfiksi.
            Dengan alur cerita yang runtut, mulai dari kelahiran Abdurrahman Ad-dhakkil di Denanyar, 4 Sya’ban 1359 H/ 7 september 1940 sampai perjalanan Gus Dur berkeliling eropa. Tetapi waktu masuk SD ditulis 4 Agustus 1940. Semua diceritakan dengan jelas, sehingga para pembaca dengan mudah menyambungkan benang merah dari setiap bab dalam novel ini.
            Banyak kenyataan historis yang dihadirkan oleh penulis. Yang selama ini belum diketahui masyarakat umum. Dengan selingan berbagai candaan khas Gus Dur membuat para pembaca tak bosan membaca sampai akhir halaman.
            Sebagai penulis dengan latar belakang pesantren, Aguk Irawan lebih banyak mengekspos kisah yang terjadi di lingkungan pesantren. Kisah di mana Gus dur belajar kitab kitab islam. Namun juga membahas Gus Dur yang membaca banyak novel sastra klasik Ernest Hemingway, Faultner dan karya Karl Marx.
            Menurut saya, buku ini cukup menarik untuk dijadikan referensi untuk membaca Gus Dur. Hal yang bisa saya catat adalah kesatuan dari aliran fantasi, penggalan otobiografi dan kenyataan historis. Semuanya masih bisa dieksplorasi lebih dalam lagi dengan unsur budaya masyarakat. Sehingga menjadi novel yang punya nila humanis-universal sebagaimana nilai yang diperjuangkan tokoh novel ini, Gus Dur.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post