Thursday, 21 January 2016

Renungan bagi para Pemuda

Tags


PEMUDA BANGKITLAH

“Padamu Pemuda Aku Titipkan Indonesia”, betapapun beratnya tulang punggung pemuda Indonesia mendapatkan beban. Tentang Indonesia, tentang pulau-pulaunya yang konon ada 17.000 pulau lebih bahkan data akhir menunjukkan 34.000 pulau. Tentang flora dan faunanya yang berjumlah milyaran spicies. Mulai dari monera yang paling kecil sampai hewan dan tumbuhan yang beraneka ragam. Tentang lautnya yang luas dan dangkal yang memungkinkan tumbuh plankton dan ikan segar sangat cepat. Tentang manusianya, 300 jutaan, disitu ada pemuda yang jiwa raganya masih miristem “Tumbuh dan Berkembang”.
Kita tahu kekuatan dan kekayaan kita “sumber daya alam dan manusia yang melimpah”, sedangkan kelemahan kita adalah pemberdayaan dan pengolahannya sehingga kita lemah.
Pemuda aku lihat engkau “Letoi”, loyo sepertinya bukan karena beban yang berat tetapi karena pandangan ke depan semrawut dan membingungkan tidak fokus, “Pecah”.
Betapa tidak, beban pendidikan yang banyak dan berat, soalnya pendidikan kita tak fokus padahal kita ini Indonesia, lautnya kepulauannya dan hutan serta melimpahnya penduduk dan budaya. Kecerdasarn kita sia-sia keterampilan kita sia-sia, sama sekali tidak menjadi Indonesia berdaya, yang kita hasilkan nyaris bukan Indonesia.
Pancasila merupakan sumber dari budaya kita, untuk itu segala macam pendidikan dan teknologi harus mengarah ke pancasila. “Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.
“Pemuda, infomatika dan alam” menjadi tumpuhan kita dalam pemberdayaan. Ketika pemuda fokus terhadap kebangkitan dalam teknologi informatika tentang alam dan dirinya, maka mulailah pemuda akan tahu langkah-langkahnya.
Kebangkita itu diawali dari dirinya para pemuda itu sendiri, kemudian membaca lingkungannya yang melimpah. Intropeksi diri dan lingkungan yang terus-menerus itu maka jati diri bangsa kita akan berhasil. Teknologi kehutanan, kelautan dan hasil hutan serta laut yang harus kita berdayakan, teknologi mineral dan pertambangan. Akan tetapi bila sumberdaya manusianya tidak dikelolah maka muncul perselisihan yang tidak berkesudahan yang akhirnya muncul kehancuran. Sumberdaya manusia dikelolah dari diri yang senantiasa tunduk dan patuh kepada tuhan yang maha esa sebagai cermin awal pancasila.
Jika kita sudah mengelolah laut, hutan dan tambang dengan hasil yang melimpah, kelimpahan itu kita sertifikatkan dengan lembaran kertas yang namanya “Rupiah”. Maka rupiah akan bermartabat dimata dunia.
Sementara waktu kita mengekplorasi dolar, betapah sulitnya menambang dolar, toh akhirnya uang kita diombang ambingkan dolar. lah wong kita tergantung dari mata uang dolar, mengapa kita mempersulit diri padahal ada yang mudah. Bertambanglah milik kita sendiri, jika emas kita tambang melimpah, perak melimpah, gas alam yang berlebihan tambangnya dan melimpah, cadangan minyaknya melimpah, sedangkan kita sekarang sangat kurang coba batubaranya, coba kayunya atau hutannya, coba ikannya, coba padinya, jagungnya, kedelai dan ramuan obat-obatannya semuanya masih minim. Apa yang harus kita sertifikatkan?. Kita punya segalanya yang belum kita kelolah yang jelas, belum bisa kita sertifikatkan sebagai rupiah. Itu kekayaan yang masih terpendam “Harta Karun”.  



PEMUDA KITA HARUS BANGKIT, KITA HARUS KERJA KERAS.
Seorang pemuda yang wajib kita contoh adalah “Yusuf” terdapat pada firman Allah pada Al-Qur’an surat Yusuf, adalah seorang pemuda yang terikat pada surat Al-Mu’minun
1.        Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.
2.        Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.
3.        Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.
4.        Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.
5.        Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.
6.        Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.
7.        Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.
8.        Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.
9.        Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.
10.    Mereka itulah yang akan me­warisi.
11.    Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.
Yusuf merupakan pemuda yang patuh, berakhalaq mulia, lemah lembut, sabar, santun, ulet. Walaupun orang-orang kanan kirinya bahkan saudaranya sering mengganggu dan mencelakainya.
Bahkan ketika di goda seorang Zulaiha dia mampu menahan tanpa nafsu, dan ketika itu diberi amanah sebagai bendaharawan dia mampu menjaganya, memegang janji yang teguh, pemberi ma’af dan sedekah. Yang pada endingnya beliau menjadi seorang yang sukses.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post