Monday, 12 October 2015

Cerita Pendek

Tags



http://philipcoppens.com/vendetta_07.jpg

                                                                              Bedebah
                Mungkin kalian menganggap aku hanya pembual, hanya oirang dengan omongan besar, atau apalah istilah untuk menggambarkan itu. Ini adalah ceritaku, ku hanya ingin menceritakannya agar kalian tak akan bernasib sama seperti diriku, menjadi seorang bedebah yang tak pantas dikasihani.
                ***
                Sebelum kalian mendenghar ceritaku, lebih baik kalian tau siapa aku. Agar nantinya kalian tak akan menyesal telah mendengar rangkaian cerita tentang hidupku ini.
                Aku hanyalah seorang siswa biasa di sekolahku, nilaiku standar, aku tidak terlalu dikenal. Mungkin itu adalah konsekuensi dari kebiasaanku nongkrong di belakang sekolah.  Ya itulah kebiasanku menghindar dari keramaian.
                Seluruh kebiasaanku berjalan seperti biasa, sesai pelajaran aku pasti berada di belakang sekolah, entah apa yang kulakukan, mungkin hanya sekedar duduk memandangi pemandangan gunung yang tepat berada di belakang sekolahku.
                Suatu hari aku terkejut, bagaimana tidak. Ada seorang gadis yang duduk di tempat biasanya aku menghabiskan waktuku sepulang sekolah. Dia duduk memandang ke arah tumpukan pegunungan yang tertumpuk rapi, tempat dimana sang surya bersembunyi di kala senja.
                Kucoba untuk mendekati gadis itu, nampaknya dia tidak menyadari kehadiranku. Aku pun langsung saja duduk disampingnya. Diam. Memandangi gunung. Bebrapa menit kemudian aku pun mengambil anisiatif untuk memulai percakapan, mencairkan suasana yang terasa beku.
                Tak kusangka ternyata gadis itu memiliki wawasan yang luas. Dibalik tubuhnya yang mungil dia memiliki sesuatu yang berbeda. Entahlah, tapi selalu ada saja topik yang dia bicarakan sehingga tak terasa senja sudah menyingsing di ufuk barat. Aku pun berpisah dengan gadis mungil itu.
                ***
                Hari demi hari ku semakin akrab dengan gadis itu. Dia yang seolah mencari ketenangan dengan duduk menghabiskan waktu dibelakang sekolah sama sepertiku. Gadis itu sering bercerita tentang hubungannya dengan pacarnya. Ya aku hanya mampu mendengarkan dan mengiyakan semua perkataannya. Aku memang cenderung tidak tertarik membicarakan masalah percintaan. Maklum lah, diriku memiliki memori buruk soal masalah cinta mencintai.
                Hari demi hari, aku makin tau tentang gadis itu, cuikuplah kalian tau ciri gadis itu tanpa tau siapa nama gadis itu. Ya karena ini hanya cerita fiktih dengan tokoh yang tidak fiktif.
                Gadis itu seakan sangat percaya kepadaku. Dia mencritakan semuanya tanpa tedeng aling-aling. Akupun merasa tidak enak sendiri kepada gadis itu. Ida memberitahuku segalanya. Dia bilang “Aku percaya kepadamu kok” itu pun membuat ku merasa terbebani denngan semua cerita yang dia ceritakan. Tapi apa daya, akupun menjaga semua cerita itu.
                Entah kenapa, pada hari itu. Gadis mungil itu tidak berada di tempat biasanya dia menghabiskan waktunya bersamaku. Entahlah, kemana gadis mungil itu, batinku bertanya tanya. Akupun menghabiskan sore itu sendiri, duduk menyendiri memandangi pegunungan yang tertumpuk rapi di barat sana.
                Kumelirik waktu di jam tanganku, sudah sore pikirku melihat jam tanganku menunjukkan angka lima. Aku pun bersiap-siap pulang, tapi terkejutlah aku. Gadis itu datang, langsung menubrukku dengan wajah penuh air mata. Dia menangis tersedu-sedu.
                Kuurungkan niatku untuk pulang, aku pun menghabiskan waktu senja sore itu dibelkang sekolah, menenangkan gadis mungil itu. Akhirnya gadis itu pun berterus terang. Dia menceritakan semuanya. Kenapa dia bersedih. Mendengar semua ceritanya, akupun bertekad untuk menjaganya membuatnya selalu tersenyum. Akupun mengantarkannya pulang.
                ***
                Setelah kejadian sore itu, aku dan gadis itu pun menjadi semakin dekat. Aku sering memberinya kejutan dia pun begitu. Tak kurasa adfa rasa suka yang tumbuh dalam hatiku. Tapi entah kenapa aku tak mempunyai keberanian untuk menyatakannya. Akupun membiarkan semuanya berjalan sebagai mana mestinya. Aku sudah terlalu lelah menentang kehendak langit, itu pula yang menjadi alasanku senang menghabiskan waktuku dibelakang sekolah. Karena kurasa disana alam dapat mendengar semua keluhanku.
                ***
                Entah kenapa, apakah semua kepercayaan yang gadis itu berikan padaku atau hal lain yang membuatku terasa terbebani. Entahlah aku juga tidak mengerti. Aku bingung.
                Malam itu, akupun menjelaskan semua hal pada gadis itu. Menjelaskan semua kebusukan diriku. Memang diriku terlalu pandai bersandiwara. Mungkin. Tapi malam itu, gadis itu pun tau siapa sebenarnya aku. Pria yang selalu duduk memandangi gunung dan langit biru di ufuk barat di belakang sekolah. Malam itu aku mengingkari semua yang telah aku  katakan. Kubongkar semua kemunafikan diriku.
                keberterus terang, akulah sebenarnya yang meminta pacar gadis itu meninggalkan gadis itu. Aku pun menceritakan semua sandiwara yang aku jalankan. Tak pelak, satu tamparan keras pun mendarat dengan telak di pipiku. Aku memang pantas mendapatkannya. Bedebah sepertiku memang sepatutnya mendapatkan balasan atas semua kelakuanku. Maafkanlah aku yang telah membuat gadis itu menangis tersedu-sedu. Aku sudah tidak bisa lagi menahan semua kemunfikan ini.kuarap akulah bedebah terakhir yang dia pernah kenal. Biarlah langit malam penuh bintang itu menjadi saksi perpisahan gadis mungil itu dengan seorang bedebah sepertiku. Hidup harus tetap berjalan.
               

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post