Monday, 12 October 2015

Cerita Pendek 2

Tags


http://4.bp.blogspot.com/-wkKB84AcScI/UNlyXUDRo5I/AAAAAAAAAyY/KdMtuictHVQ/s1600/77+pohon.jpg


                                                                      

                                                                Pohon
                Entahlah, apa gerangan hingga aku bisa sampai di tepi taman ini. Tempat ku pertama kali melihatmu, melihat dirimu berjalan penuh kebahagian. Sungguh indah kala itu.
                Kupaksakan kakiku melangkah lebih jauh, menyusuri jalan setapak di taman itu, taman yang penuh dengan kenangan kita. Kenangan kita berdua yang tersimpan indah dalam memori alam, tahukah kamu bahwa alam memiliki daya ingat yang luar biasa tak seperti manusia yang masih muda sudah pikun. Kenangan kita terekan sempurna oleh alam.
                Ku terus melangkah semakin masuk ke bagian dalam taman, lumayan lah taman ini cukup luas. Akhirnya aku sampai ke tempat yang menjadi tujuanku kembali ke kota ini setelah sepuluh tahun pergi meninggalkan kota ini.
                Aku benar benar tak bisamenahan rasa ini, menahan perasaan yang mulai membuncah dalam hati, mengingat semua kenangan sepuluh tahun yang lalu. Kenangan yang mungkin terlalu indah untuk hilang hanya karena masalah sepele. Aku pun mulai mengingat kenangan sepuluh tahun yang lalu.
                ***
                Orang-orang bilang kotaku adalah kota yang indah dan terawat, itu memang benar karena seluruh rakyat di kotaku benar benar disiplin soal kebersihan. Tapi tidak hanya itu, kotaku terkenal dengan taman kotanyayang luas dan sebuah pohon linden besar di tengah taman itu, pohon dengan daun berbentuk hati sebagai representasi cinta.
                Aku sering menghabiskan sore hariku di taman kota, menikmati suasana senja yang terlihat cukup indah seakan akan ini adalah senja terakhir yang dapat aku lihat. Sungguh indh. Setiap hariku kuhabiskan hanya bersantai di taman kota, maklum, waktu itu aku masih remaja yang baru luls sekoolah dan tak tahu apa yang harus kulakukn. Hingga suatu hari ku bertemu dirimu, gadis yang berjalan dengan menawan diantara daun daun pohon linden yang berguguran. “oh bidadariku’ ucapku dalam hati.
                Aku terkejut karena dirimu ternyata juga sering menghabiskan sore harimu menikmati senja di taman kota. Akhirnya dengan sedikit keberanian yang terkumpul aku memberanikan diriku untuk berkenalan dengan mu, ternyata harapanku tidak bertepuk sebelah tangan. Engkau menerimaku sebagai teman barumu, kita pun ngobrol ngalor ngidul sore itu hingga sang senja hilang di balik tumpukan gunung di ufuk barat sana.
                Tak terasa ada rasa yang tumbuh dalam hatiku, rasa yang kian lama kian tak mampu aku pendam. Akhirnya setelah aku meyakinkan diriku akhirnya aku pun menyatakan perasaanku padamu, oh sungguh kenangan yang indah, disore yang indah itu. Dengan cahaya senja yang menawan dan sebuh mawar di tangan, ku menyatakan perasaanku, mengungkapkan semua yang aku rasakan.
                Setiap hariku pun berjalan makin indah, kau selalu ada  di sampingku. Telah banyak tempat yang kita kunjungi dan di setiap akhir kunjungan kita kita meninggalkan tulisan berupa inisial nama kita ditempat itu.
                ***
                Tubuhku mulai kaku, aku tak bisa terus melangkah, kenangan sepuluh tahun silam masih terngiang dalam kepalaku. Tapi aku harus terus melangkah, aku harus berdamai dengan perasanku. Kukumpulkan seluruh tenagaku, mencoba mengesampingkan kenangan yang terus terngiang. Aku pun mendekat ke pohon linden itu, aku pasti bisa.
                ***
                Hari hariku makin berwarna dengan kehadiranmu. Seakan dunia hanya milik kita berdua. Canda tawamu yang riuh, pembawaanmu yang anggun, senyummu yang meneduhkan hati. Ah tiap hari, ku makin mencintaimu. Orang bijak memang benar, Love simplify everything. Seakan semua hal menjadi mudah jiakalau kau ada disampingku.
                Kurasa kala itu kita adalah pasangan yang paling serasi di kota kita. Pasangan yang selalu menikmati indahnya senja di taman kota. Tahukah kamu bahwa andaikan aku bisa menyimpan senja sore itu, ingin sekali ku menghadiahkan keindahan senja padamu.
                Kutahu kau senang bercerita, maka aku pun menceritakan banyak cerita tentang cinta padamu. Kau sebut aku bagaikan shakespear yang mampu merangkai kata kata indah layaknya cerita Romeo dan Juliet. Aku benar benar tersanjung dengan pujianmu, aku pun menceritakn makin banyak cerita padamu, kadang engkau bergantian menceritakan cerita kepadaku.
                Seakan bercerita denganmu tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada cerita untuk diceritakan, entahlah itu kisah nyata atau hanya karangan kita belaka. Tapi cerita cerita cerita itu sungguh indah.
                ***
                Aku sungguh terkejut, dipagi indah itu ibuku datang menjemputku di taman kota. Aku memang jarang tinggal di rumahku. Aku rasa taman kota adalah rumah keduaku.
                Aku sungguh terkejut karena orang tuaku memintaku untuk melanjutkan studiku ke luar negeri. Sungguh aku benar benar tak mampu membayangkan hidup tanpamu disisiku. Sungguh pilihan yang berat antara menuruti perintah orang tuaku atau memilih tinggal. Akhirnya aku pun menerima perintah orang tuaku untuk melanjutkan studiku ke luar negeri
                Sore harinya aku menguatkan perasaanku untuk memberitahumu pilihanku. Tapi sebelum menjelaskannya aku menanyakan seuatu kepadamu, Dapatkah engkau menyimpan perasaanmu jikalau suatu saat aku pergi, dengan mantap engkau mengatakan akan menjga seluruh perasaanmu karena aku adalah cinta pertama dan terakhirmu. Aku pun lalu menceritakan rencana kepergianku, sore itu pun menjadi sore yang pilu.
                Akupun pergi meninggalkan kotaku dan  dirimu.
                ***
                Seketika aku terduduk dibawah naungan pohon linden itu. Segala pertahan hatiku jebol seketika oleh semua kenangan kita. Seluruh pertahanan yang aku persiapkan untuk berdamai dengan perasaanku hancur sudah, aku sedih tapi tak mengucurkan air mata. Mungkin melepaskan adalah satu-satunya cara untuk berdamai dengan perasaan ini.
                ***
                Dua tahun tersa cukup lama bagiku. Akhirnya seluruh studiku telah usai. Aku pun pulang kembali ke kotaku. Aku sudah mempersiapkan semuanya, kita akan bersama selamanya.
                Sekembalinya aku ke kota, aku langsung mencarimu. Kudatangi rumahmu, tapi engkau tiada, ku mencarimu ke taman kota engkau tiada. Entahlah engkau berubah semenjak aku kembali. Aku jarang bertemu denganmu, seakan engkau berusaha menghindar dariku.
                Akhirnya pada sore itu, aku tau mengapa engkau berubah. Engkau lebih memilih anak walikota dariapada diriku. Engkau lupa akan semua kenangan kita. Mataku benar benar tak bisa dibohongi, sore itu dibawah pohon linden, engkau bercumbu dengan mesranya. Sungguh hati ini seakan tersayat, hancur berkeping-keping. Kuhampiri dirimu dan kulupakan segala amarah dalam hati. Engkau meminta maaf dengan sangat. Tapi sayang diriku telah mencapai batas, aku pun pergi.
                Aku sungguh tak percaya aku kembali untuk dikhianati, pohon linden itu menjadi saksi kisah kita. Tempat kita bertemu dan tempat engkau menghancurkan segalanya.
                ***
                Sungguh kenangan yang memilukan, sungguh aku tak punya  kekuatan untuk bangkit. Kejadian sepuluh tahun yang lalu, penghianatanmu. Ahhh hatiku benar benar kecut, ternyata aku masih belum sanggup untuk berdamai dengan perasaanku. Tapi aku tahu kehidupan harus tetap berjalan, dan pohon ini akan menjadi saksinya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Ads Inside Post